Sabtu, 14 Agustus 2010

MEMILIH PASANGAN

"Aku menyukaimu karena kebaikanmu. Karena kejujuranmu dan karena keindahankarakter dan kebenaran kata-katamu."

Kalimat di atas adalah kutipan ungkapan Siti Khadijah pada Nabi Muhammadsaat Rasulullah menerima tawaran Khadijah untuk menikah dengannya sepertidiceritakan dalam salah satu kitab biografi Nabi yaitu Siratu Rasulillah karyaIbnu Ishaq.

Siti Khadijah adalah salah satu dari tokoh bangsawan Makkah yang selain kayajuga memiliki wawasan intelektual yang luas pada zamannya. Ia– seorang janda yang ditinggal mati duasuami terdahulu–tahu betul bahwa betapa pentingnya memilih pasangan yang tepatdan benar.

Setidaknya ada tiga pelajaran yang dapat kita petik dari kisah pernikahanNabi Muhammad dan Siti Khadijah dan alasannya memilih Nabi sebagai pasanganhidupnya yang terakhir.

Pertama, pernikahan adalah hubungan persahabatan antara seorang laki-lakidan perempuan yang diharapkan akan berlangsung seumur hidup. Suatu hubunganpersahabatan tidak akan berjalan dengan lancar dan harmonis apabila salah satuatau kedua pasangan tidak memiliki karakter yang baik.

Karakter baik dan buruk seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor yangperlu dipertimbangkan sebelum menjatuhkan pilihan, antara lain, watak bawaan,lingkungan keluarga , lingkungan sekitar, lingkungan pendidikan dan wawasankeagamaan. Di antara semuanya, faktor watak bawaan dan wawasan spiritual adalahdua hal yang paling penting. Dan di antara dua hal ini, wawasan keagamaanhendaknya menjadi faktor penentu untuk menikahi seseorang. Rasulullahmengatakan bahwa seorang laki-laki yang menikahi wanita karena kesalihan wanitaitu (fadzfar li dzatiddin) , maka dia akan beruntung (taribat yadaka). Nabisangat tidak menganjurkan memilih pasangan hanya karena faktor harta atau fisik(cantik atau tampan) dengan tanpa melihat kesalihan sebagai pertimbangan utama.Quran bahkan menegaskan haramnya menikah dengan pria atau wanita nakal (QSAnnur 24:3). Karena selain berdampak pada ketidakharmonisan dalam rumah tangga,juga berakibat kurang baik dalam proses pendidikan anak.

Kedua, pendidikan anak dimulai dari saat keputusan kita dalam memilihpasangan. Karena, menurut sejumlah ahli psikologi, kepribadian seseorang banyakdipengaruhi oleh dua faktor: keturunan dan lingkungan. Karakter warisan orangtua menjadi batas-batas kepribadian yang dapat dikembangkan. Sedanglingkungan—yakni sosial, budaya dan faktor situasional—akan mempengaruhiperkembangan aktual kepribadian anak dalam lingkup batas-batas tersebut.Sebagai contoh, Andi adalah seorang anak yang orangtuanya dikenal pemarah, makatidak heran apabila watak dasar Anda pemarah juga. Akan tetapi sifat pemarahnyajauh berkurang karena dia berteman dengan Budi yang penyabar. Namun,sesabar-sabar Andi, tentu tidak dapat melebihi kesabaran Budi, dst.

Ketiga, sudah dimaklumi bahwa untuk mencari pasangan hidup yang ideal kitaharus mengenal karakter yang sebenarnya dari calon pasangan kita. Dari kisahSiti Khadijah ini, kita tahu bahwa untuk mengenal kepribadian calon pasangan,tidak diperlukan proses pacaran atau "ta'aruf" terlebih dahulu. Yang diperlukanadalah penilaian orang-orang yang tahu betul perilaku calon pasangan kita.

Itulah yang dilakukan Siti Khajijah. Untuk mengenal Muhammad secara lebihdekat, Khadijah berkonsultasi dengan sepupunya Waraqah yang juga seorangpendeta Nasrani. Dia juga bertanya pada pembantu laki-lakinya yang bernamaMaysarah yang menyertai Nabi dalam ekspedisi bisnis ke Suriah. Ia pun memintatolong sahabat wanitanya bernama Nufaysah untuk mengutarakan niatnya padaMuhammad. Yang oleh Muhammad diterima dengan tangan terbuka.

Sikap Khadijah yang mengadakan pendekatan lebih dulu ini juga patut dicontohkaum perempuan. Apabila seorang wanita sudah merasa menemukan pasanganidealnya, tidak ada salahnya ia mengadakan pendekatan lebih dahulu. Tentumelalui seorang perantara, seperti melalui orang tuanya atau tokoh yangdihormati, sebagaimana dicontohkan oleh Siti Khadijah



Tidak ada komentar:

Posting Komentar