Assalamu’alaikum wr.wb
Wanita pun behak mengajukan cerai
Disaat seorang wanita yang menjabat sebagai serang isteri, merasakan buntu dalam kehidupannya berumah tangga dan tidak memiliki hak untuk menceraikan, tidak sedikit perempuan yang salah kaprah dalam menjalani rumah tangganya. Padahal Islam telah lama menjawab tentang problem ini.
Khulu'
Secara defenitif, khulu' merupakan tebusan yang dibayar oleh seorang istri kepada suami yang membencinya, agar ia (suami) mau menceraikannya (istri). Jadi, ketika seorang istri bermaksud meminta cerai " ingin bercerai ," ia harus membayar sejumlah tertentu kepada suaminya sebagai tebusan atas pengajuan cerainya itu ('iwadh).
Dan tentunya khulu' tersebut diperbolehkan jika telah memenuhi syarat yang telah ditentukan. Pada zaman Rasulullah pernah terjadi persoalan seperti ini, yang mana seorang istri sahabat mengeluhkan tentang persoalan rumah tangganya. Dia adalah istri Tsabit bin Qais.
" Wahai Rasulullah, terus terang aku tidak mencela suamiku, baik dalam hal akhak dan agamanya, tetapi aku tidak menyukai kekufuran setelah (memeluk) Islam," keluh wanita tersebut.
Tergambar jelas gurat keputusasaan dari istri yang menanggung ketidak bahagiaan dalam menjalani hidup berumah tangga. Dan Rasulullah memberi solusi terbaik bagi perempuan itu. "Apakah kau bersedia mengembalikan kebun yang menjadi maharnya?" tanya Rasulullah.
Istri Tsabit yang bernama Jamilah itu manjawab dengan mantab, "Ya, aku bersedia." Lalu Rasulullah pun segera berkata kepada suami Jamilah, Tsabit bin Qais,"Wahai Tsabit, terimalah kebun itu, dan ceraikanlah istrimu." (HR Bukhari)
Gegabhakah Rasulullah dalam membuat keputusan tersebut? bukankah perceraian adalah sesuatu yang paling dibenci oleh Allah kendati diperbolehkan? Jawabannya tentu saja tidak. Sebab syariat talak pun bisa menjadi sunnah bahkan wajib dalam sebuah kasus tertentu, teutama semisal kasus diatas. Perceraian dibenci apabila pasangan suami istri sebetulnya masih bisa mempertahankan biduk rumah tangga namun tetap memilih untuk bercerai.
Ketentuan khulu'
Sebelum khulu' dilakukan, hendaknya istri memerhatikan hal berikut dibawah ini :
Seorang istri meminta suaminya untuk melakukan khulu', jika memang tampak adanya bahaya yang mengancam dan merasa takut keduanya tidak dapat menegakkan hukum Allah. Khulu' hendaknya berlangsung sampai selesai tanpa adanya perlakuan penganiayaan (menyakiti) yang dilakukan suami terhadap istinya. Dan jika memang penganiayaan itu terjadi maka suami tidak boleh mengambil sedikitpun harta dari istrinya.
Khulu' juga juga berfungsi seperti talak ba'in, sehingga suami tidak lagi diperbolehkan merujuk istrinya, kecuali setelah mantan istrinya menikah dengan laki-laki lain dan diceraikan olehnya, baru kemudian melakukan akad nikah yang baru.
Disunnahkan bagi suami untuk tidak mengambil harta istri melebihi jumlah mahar yang telah diberikan kepadanya, apalagi meminta atau menetapkan sendiri dengan jumlah yang diinginkan. Jika khulu' tersebut itu sebagai talak, maka menurut jumhur 'ulama, istri yang di-khulu' harus menjalani masa 'iddahnya selama tiga kali quru' (tiga kali masa suci), yang juga tedapat dalam Al Qur an: Qs. Al Baqaah:228.
Dan diperbolehkan bagi wali seorang wanita yang masih kecil untuk mewakilinya sebagai peminta khulu' dari suaminya, jika memang sang wali melihat adanya bahaya yang mengancam wanita tersebut. Klulu' diperbolehkan, baik dalam masa suci maupun ketika haid, karena khulu' tidak memiliki waktu tertentu, dengan kata lain dapat dilakukan kapan saja.
Nah, dari apa yang telah tersurat diatas semoga dapat memberikan sebuah kemnafaatan bagi anda, dan juga saya tentunya. Namun saya berharap agar tidak terjadi perceraian dengan anda. Akhiron ihdinash shiratal mustaqim.
Wassalamu’alaikum wr.wb
Iim Cah Boenkzoe, Najiv Alaska, Bunga Ilalang dan 8 lainnya menyukai ini.
o
Iim Arrosyid syukron jempol manisnya ya akhi .............^_^
o
Iim Arrosyid syukron atas jempol manisnya ya ikhwani .....^_^
o
Dien Noer Wizz zmi2 akhi
Sabtu, 23 Juli 2011
Rabu, 20 Juli 2011
Tangisan Rasulullah SAW Menggetarkan Arasy
“Dikisahkan, bahawasanya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka ’bah, beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah s.a.w. menirunya membaca “Ya Karim! Ya Karim!” Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka ’bah, dan berzikir lagi: “ Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”
Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu lalu berkata: “Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, kerana aku ini adalah orang Arab badwi? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah. ”
Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab ?” “Belum,”jawab orang itu. “Jadi bagaimana kau beriman kepadanya ?” “Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum
pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya, ” kata orang Arab badwi itu pula.
Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat !” Melihat Nabi dihadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya. “Tuan ini Nabi Muhammad?!” “Ya” jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk
untuk mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w. Melihat hal itu,
Rasulullah s.a.w.menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya:“Wahai orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan serupa itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada tuannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman, dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”
Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda:
“ Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil mahupun yang besar !” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi.
Maka orang Arab itu pula berkata:
“ Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya !”kata orang Arab badwi itu.
“Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan ?” Rasulullah bertanya kepadanya. ‘Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya,’ jawab orang itu. ‘ Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawananNya! ’
Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata: “ Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda:
“Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya kerana tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahawa Allah tidak akan menghisab dirinya,juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurga nanti !” Betapa sukanya orang Arab badwi itu, apabila mendengar berita tersebut. la lalu menangis kerana tidak berdaya menahan keharuan dirinya.
Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu lalu berkata: “Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, kerana aku ini adalah orang Arab badwi? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah. ”
Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab ?” “Belum,”jawab orang itu. “Jadi bagaimana kau beriman kepadanya ?” “Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum
pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya, ” kata orang Arab badwi itu pula.
Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat !” Melihat Nabi dihadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya. “Tuan ini Nabi Muhammad?!” “Ya” jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk
untuk mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w. Melihat hal itu,
Rasulullah s.a.w.menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya:“Wahai orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan serupa itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada tuannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman, dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”
Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda:
“ Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil mahupun yang besar !” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi.
Maka orang Arab itu pula berkata:
“ Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya !”kata orang Arab badwi itu.
“Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan ?” Rasulullah bertanya kepadanya. ‘Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya,’ jawab orang itu. ‘ Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawananNya! ’
Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata: “ Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda:
“Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya kerana tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahawa Allah tidak akan menghisab dirinya,juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurga nanti !” Betapa sukanya orang Arab badwi itu, apabila mendengar berita tersebut. la lalu menangis kerana tidak berdaya menahan keharuan dirinya.
Langganan:
Komentar (Atom)
